PERPUSTAKAAN BUNGA TUJUH

SMAN 1 DUMAI

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Bantuan
  • Pustakawan
  • Area Anggota
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}

LANCANG KUNING WARISAN BUDAYA RIAU


 Lancang Kuning berlayar malam.

Haluan menuju ke lautan dalam.

Kalau nahkoda kuranglah paham.

Alamat kapal akan tenggelam.

 

Pantun tersebut sangat populer di Riau, khususnya masyarakat Melayu. Filosofi dari baitnya mengisahkan bagaimana pemimpin (nakhoda) mengarungi lautan agar kapal (lancang) yang digambarkan sebagai pemerintahan tak karam. Hingga kini tak diketahui pencipta pantun itu. Namun, Lancang Kuning tetap abadi karena disematkan sebagai sebutan untuk Riau. Begitu mendengar kata Lancang Kuning orang tertuju ke daerah yang berada di timur Pulau Sumatra itu.

Tak diketahui pasti sejak kapan Riau disebut sebagai negeri atau bumi Lancang Kuning. Tak disebut pula siapa orang pertama yang memberi gelar ke daerah yang dulunya ada kerajaan Melayu penguasa Selat Malaka ini. Lancang berarti kapal besar yang biasa digunakan raja-raja mengarungi lautan. Kapal ini juga tanda komando armada perang di lautan yang dikendalikan laksamana ataupun raja.

 

Sementara Kuning sendiri merupakan warna kebesaran dalam tradisi Melayu. Kuning selalu ditemukan dalam berbagai upacara, pakaian, riasan dan baju kebesaran petinggi adat, meski dipadu dengan warna lain. Lancang atau kapal sangat akrab dengan masyarakat rumpun Melayu. Dengan ragam kerajaannya, misalnya Lingga di Kepulauan Riau atau Siak serta Indragiri di Riau, rumpun Melayu membentang dari laut China hingga Selat Malaka.

 

Lancang ini disebut sebagai pemersatu antar pulau-pulau dalam bentangan rumpun Melayu. Lancang juga mempermudah raja berpindah ke suatu daerah yang menjadi kekuasaannya. Dengan demikian, Lancang Kuning menandakan Riau sebagai kerajaan Melayu sangat mengusai maritim.

 

Di sisi lain, Lancang Kuning juga menggambarkan kejelian pemimpin dalam memerintah daerah. Makanya dalam pantun itu ada kalimat "berlayar malam, kalau nahkoda kuranglah paham, alamat kapal akan tenggelam". Berlayar pada malam hari tentu saja berbeda dengan siang. Nahkoda pada siang hari berpedoman pada matahari sehingga semua orang bisa melakukannya. Berbeda dengan malam karena nakhoda harus paham arah angin dan membaca bintang. Tidak semua orang bisa membaca bintang. Makanya diperlukan nakhoda lihai untuk membawa kapal besar dalam sebuah lautan yang luas atau pemimpin bijaksana menjalankan pemerintah. Dengan demikian, pemimpin yang paham tentang seluk beluk daerah menjadi syarat mutlak bagi Riau.

 

Berikut adalah beberapa informasi tentang sejarah kapal lancang kuning dari Riau:

  • Kapal lancang kuning merupakan kapal tradisional khas Melayu yang berasal dari provinsi Riau.
  • Kapal ini awalnya digunakan sebagai alat transportasi laut oleh masyarakat Melayu Riau untuk berdagang antar pulau.
  • Bentuk kapal lancang kuning ramping dan panjang untuk menyesuaikan dengan kondisi perairan Riau yang banyak terdapat sungai dan delta.
  • Kapal diberi warna kuning yang diyakini dapat menangkal roh jahat dan mendatangkan nasib baik bagi pelaut.
  • Pada abad ke-19, kapal lancang kuning banyak digunakan oleh kerajaan Riau Lingga sebagai armada laut perang melawan penjajah Belanda.
  • Setelah Riau jatuh ke tangan Belanda, kapal lancang kuning kemudian banyak dimiliki oleh pedagang Melayu sebagai kapal dagang antar pulau.
  • Sekitar tahun 1970-1980an, kapal lancang kuning mulai ditinggalkan karena kalah bersaing dengan kapal motor.
  • Saat ini kapal lancang kuning lebih banyak difungsikan sebagai ikon budaya dan pariwisata di Riau.
  • Beberapa kapal lancang kuning dilestarikan di museum sejarah dan galangan kapal warisan budaya.

Itulah sejarah singkat perihal kapal lancang kuning, salah satu warisan bangsa Indonesia dari provinsi Riau.

 

 

PERPUSTAKAAN BUNGA TUJUH
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

Terwujudnya Perpustakaan Bunga Tujuh SMAN 1 Dumai sebagai Pusat Ilmu Pengetahuan dan Literasi dengan pelayanan yang cepat, tepat dan akurat berbasis perpustakaan digital untuk terwujudnya SMAN 1 Dumai yang beriman dan berakhlak mulia, unggul, berdaya saing dan berwawasan global.

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik